watch sexy videos at nza-vids!
CERITA TERBARU

Memperkosa Mahasiswi Perawan Jilbaber Hingga Hamil

Cerita Kisah Nyataku ini akan aku sampaikan pada khalayak pembaca Cerita Wow. Pada awalnya aku enggan untuk menceritakan kisahku ini karena aku takut kalau ada yang tersinggung atau terlibat, maka dari itu aku memakai nama samaran bukan asli, karena dalam ceritaku ini melibatkan banyak orang.

Aku menjadi korban seks. Kisah ini aku alami 2 tahun kemarin saat aku masih menjadi seorang mahasiswa D3 di perguruan tinggi daerah Bandung. Aku saat itu kurang memiliki banyak teman wanita, karena memang aku tidak terlalu pede jika berada di dekat wanita.

Teman-temanku kebanyakan laki-laki, kami selalu melakukan semua kegiatan bersama-sama. Dari belajar bersama sampai makan-makan. Lama kelamaan akupun memiliki beberapa kenalan teman wanita yang juga teman sekelasku. Di antaranya yang bernama Nisa. Nisa dan juga teman-teman wanita ku sebagian besar memakai jilbab, dan mereka rata-rata anak pengurus masjid kampus.

Awalnya, Nisa dan aku tidak terlalu dekat, biasa saja. Justru aku lebih dekat dengan teman-temannya. Hal ini dikarenakan, perawakan Nisa yang biasa-biasa saja. Karena selalu memakai baju gamis jilbab, maka bentuk tubuhnya pun tidak terlalu kelihatan.

Namun semakin hari, aku semakin tahu bagaimana karakter Nisa. Mulailah kami berdua menjadi akrab, namun tetap, aku tidak naksir dia. Sampai suatu hari aku main ke rumah kontrakannya. Di rumah itu Nisa hanya tinggal berdua dengan kakaknya, Fifi. Teh Fifi pun memakai jilbab juga.

Nampaknya keluarga Nisa sangat soleh sekali. Nisa, walaupun memakai jilbab dan cenderung sering berbicara mengenai agama, tidak terlalu fanatis. Ia masih suka mendengarkan musik-musik pop yang lagi tren saat itu. Itulah yang membuat aku bisa merasa nyaman dekat dia, karena sebenarnya aku termasuk orang yang kurang dalam ilmu agama.

Semakin hari semakin sering menghabiskan waktu berdua, anehnya yang muncul di benakku bukanlah rasa cinta atau suka, seperti yang biasa terjadi di cerita-cerita cinta pada umumnya. Namun rasa ingin mencium bibirnya dan menghirup aroma pipinya yang aku lihat dari dekat, jarang sekali Ia menggunakan make-up. Kulit wajahnya tidak terlalu halus, kuning langsat dan sedikit berminyak. Namun aku sering mencium sedikit aroma keringatnya saat ia mendekatkan wajahnya atau tubuhnya atau saat melewatiku.

Nampaknya Nisa tidak menyadari bahwa aku semakin memiliki motif menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang tertutup dengan jilbabnya. Setiap habis pulang dari rumahnya, aku selalu merenung di kamar dan melamun bagaimana rasanya mencium bibirnya dan menghirup aroma kulit pipinya.

Bagaimana bentuk tubuhnya. Bagaimana rambutnya jika jilbabnya dilepas. Semuanya itu menjadi angan-angan yang ujung-ujungnya membuat aku berhasrat, sampai aku melakukan onani sendiri di kamar.

Kuambil minyak bayi yang ada di atas meja belajar, lalu aku membuka celanaku, duduk di kursi sambil mengocok-ngocok penisku. Perlahan sambil membayangkan Nisa ada di selangkanganku sambil mengulum penisku.

Tentunya aku dibantu oleh media, yaitu bokep di hp. Terus terang, habis aku ‘keluar’ karena membayangkan Nisa, ada rasa deg-degan merasa berdosa, namun entah kenapa aku selalu terus lakukan. Aku sadar, kalau aku tidak punya foto Nisa.

Demi mendapat foto Nisa, aku teringat ada foto kelas yang baru saja jadi, lalu aku sibuk mencari-cari dimana aku letakkan foto itu. Ketemu! Ada Nisa di situ, lalu aku memotretnya dengan HP ku. Selanjutnya aku simpan hasil fotonya di komputer.

Dengan menggunakan software Adobe Photoshop, aku rekayasa foto Nisa, yang wajahnya aku taruh di foto telanjang perempuan Asia lainnya. Jadilah foto telanjang Nisa, dengan jilbab yang masih dikenakan di kepala, namun dada ke bawah telanjang. Begitu melihat hasil foto tersebut sontak aku jadi ingin onani lagi, kuambil minyak bayi-ku dan aku onani di kamar. (bahkan saat aku menulis cerita inipun, penisku mulai berdenyut tegang). Sejak saat itu, aku mulai ingin terus ketemu Nisa, dengan berbagai cara.

Bahkan saat aku main lagi ke rumahnya, aku diam-diam mencuri kaosnya yang digantung di kamarnya saat Nisa lagi cuci piring, ku sembunyikan di tas, dan kujadikan media onani di kamar kosku. Aku membayangkan meraba-raba tetek Nisa. “Akkhh.. Nisaaa…” Setelah itu aku cipratkan spermaku saat klimaks onani ke kaos Nisa tersebut.

Hal itu kuulangi sampai kaos Nisa menguning akibat spermaku yang mengering. Suatu hari, saat aku main ke rumah Nisa, syukurlah hujan lebat, saat itu aku pura-pura mau berteduh di rumah Nisa sampai hujan berhenti.

Saat itu di rumahnya hanya kami berdua, kakanya, Teh Fifi sedang kuliah. Lalu aku pura-pura ngantuk dan ketiduran di karpet ruang tamunya. Aku lakukan ini karena aku tahu tadinya Nisa mau mandi, karena ia sudah mengalungi handuk (Nisa tetap mengenakan jilbab meskipun di rumah).

Benar, Nisa yang masih mengira aku tidur, masuk ke kamar mandi. Pintu kamar mandi Nisa sebenarnya agak sulit untuk diintip, namun aku mencoba mengintip dari lubang kuncinya (tipe kuncinya masih tipe lama), aku geser besi kunci yang tergantung dari dalam dengan lidi, sedikit saja, aku lalu bisa melihat ke dalam kamar mandi. Ya Tuhan, aku lihat puting susu Nisa, kulit tubuhnya lebih putih dari wajahnya, mungkin karena selalu tertutup jilbab.

Aku deg-degan sekali saat mengintipnya mandi. Karena tidak tahan, aku segera pergi ke kamarnya, aku cari-cari benda yang bisa aku ‘semprotkan’ spermaku yang hendak keluar dari penisku ini. Lalu aku melihat mug/gelas milik Nisa, ku buka dalamnya ternyata teh manis yang baru saja dibuat Nisa untuk Nisa minum.

Lalu aku onani dan menumpahkan spermaku ke dalam teh manis Nisa itu, entah apa pikiranku saat itu, namun aku ingin sekali Nisa menelan spermaku. “Ooooh…. Nisaaa…” Setelah masuk ke gelas, aku baru sadar, warna sperma dan teh sangat berbeda, teh Nisa jadinya seperti berbusa sedikit, aku aduk-aduk saja. Lalu aku tutup lagi mug/gelas itu dengan tutup gelas.

Deg-degan sekali aku jika Nisa sadar saat meminum teh manisnya. Aku dengar Nisa telah selesai mandi, ia ternyata sudah berpakaian di dalam kamar mandi (termasuk sudah memakai jilbabnya). “Hey, Ki, udah bangun…? bentar ya” Ia menyapaku dan masuk ke kamar.

Hari itu, aku pulang sehabis hujan reda. Aku deg-degan, duh bagaimana jika Nisa sadar rasa teh-nya ada yang aneh. Tapi bodo amatlah. Besok-besoknya ternyata Nisa bersikap seperti biasa, nampaknya ia tidak menyadari.

Apakah ia tidak meminum tehnya itu? Atau jangan-jangan kakaknya yang minum, toh siapapun yang minum, biar kakaknya aku juga oke-oke saja. Ini yang menjadi cikal bakal aku juga jadi punya niatan untuk membayangkan kakaknya menjadi salah satu dari fantasi onaniku. Sampai suatu hari aku dengar Nisa kecelakaan. Ia ditabrak motor hingga pingsan. Mendengar kabar ini, aku dan Saiful (temanku juga) pergi ke rumah Nisa hari itu juga.

Di rumah Nisa, cuma ada Rawni (temanku sekaligus sahabat Nisa dari kecil) yang menjaga Nisa yang terbaring pingsan di kamar. Pipinya lecet dan banyak obat merah di tangannya. Tubuhnya lemas, dan keringatan. Melihat ini, Ya Tuhan, aku sama sekali tidak empati, justru melihat Nisa lemas dan keringatan, aku jadi ingin mencium bau keringatnya dan menjilat wajahnya dan bibirnya.

Apalagi ia tetap dalam mengenakan jilbabnya. Ingin kuraba dadanya yang basah oleh keringat, ah, penisku mengeras! Tiba-tiba, cobaan dari Tuhan semakin menjadi kenyataan, Rawni meminta tolong Saiful untuk pergi membeli pulsa agar bisa menelepon untuk memberitahukan ke orang tua Nisa di Bekasi soal ini sekaligus pergi menebus resep dokter. Aku pun dengan wajah munafik berpura-pura menjaga Nisa selama pergi. Tampaknya Rawni dan Saiful yakin denganku, karena selama ini di mata mereka aku selalu menjadi teman yang baik, dewasa dan terpercaya.

Setelah kepergian Rawni dan Saiful, aku mulai mengunci pintu, dan mulai mendekati wajahku ke wajah Nisa, uummmph ternyata bau keringatnya tidak begitu wangi, tapi bikin aku jadi nafsu. Aku coba panggil-panggil nama Nisa, dan menggoyang sedikit mencoba mengetes apakah Nisa benar-benar masih pingsan.

Setelah aku yakin, maka ku dekati bibirku ke wajah Nisa, lalu aku cium bibirnya, aku buka sedikit bibirnya pakai jariku, untuk kumasukkan lidahku, aku jilat-jilat seluruh wajah Nisa. Termasuk lubang telinga dan hidungnya.

Aku raba teteknya, ternyata tidak begitu besar, dan empuk sekali. Penisku tegang sekali, sakit sekali rasanya dan mulai berair. Aku deg-degan luar biasa, maka aku buka celanaku, aku ingin onani di wajah Nisa, dan ingin menumpahkan spermaku di mulut Nisa.

Namun ternyata jadi lebih jauh dari itu, aku menyingkap gamis Nisa yang seperti rok, membuka celananya. Aku lihat celana dalamnya, vaginanya berbulu lebat sekali, dan baunya… umph… pengap sekali rasanya, namun aku tidak perduli. Celana dalamnya tidak aku buka, aku hanya menyingkap celana dalam Nisa sedikit agar aku bisa melihat vaginanya yang sangat tertutup dengan bulu kemaluan.

Entah apa yang merasuki ku, aku dengan deg-degan luar biasa, memasukkan penis ke vagina Nisa, susah sekali ternyata. “Eghhh.. ayo, Nisaa…” sambil aku bergumam.

Aku ingin cepat-cepat selesai, takut ketahuan Rawni dan Syaiful soalnya. Akhirnya aku berhasil, kukangkangkan kaki Nisa, aku masukkan penisku, “Aduh.. ssh..” sempit sekali yah ternyata, susah untuk di tarik ulur (keluar masukkan). Walau tidak banyak bergerak, tidak sampai 30 detik spermaku langsung keluar, hangat dan banyak. Aku banjiri vagina Nisa yang belum juga siuman dengan sperma hangatku.

Deg-degan sekali hatiku, apalagi aku kaget ternyata, penisku berdarah, namun setelah aku cermati, darah itu mengalir dari vagina Nisa. Aku langsung ambil lap basah di dapur (masih dalam keadaan tidak bercelana) dan mengelap vagina Nisa dan selangkangannya. Aku pakaikan lagi celana Nisa seperti semula. Jujur, kakiku lemas sekali, hatiku deg-degan, dan nafasku tersengal-sengal.

Rasanya bercampur antara takut dan senang. Herannya, setelah aku mengeluarkan spermaku di dalam vagina Nisa, Nisa jadi tidak menarik lagi buatku. Aku jadi merasa Ia sangat tidak menarik, dan bau keringatnya yang tadi sangat merangsangku, sekarang jadi sangat tidak mengenakkan. Rawni dan Saiful datang, mereka tidak curiga sama sekali.

Dua bulan kejadian itu berlalu, Nisa hamil. Awalnya Ia menutupi, karena aku tahu Ia bingung kenapa ia bisa hamil dan bahkan ia tidak percaya, karena ia merasa tidak pernah berhubungan seks. Apalagi ia berjilbab. Saat itupun tidak ada seorangpun yang curiga denganku, termasuk Nisa.

Aku hanya tinggal memasang wajah innocent. Rawni temannyalah yang akhirnya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekatku. Semua teman-teman di kampus kaget. Nisa tidak lagi masuk kampus sejak hari itu. Ia stress. Saat ini aku tidak tahu lagi bagaimana nasib Nisa.

Apakah Ia melahirkan anak yang dikandungnya itu atau tidak. Ya, anak itu, anakku. Satu sisi aku masih merasa bersalah sampai detik ini, namun di sisi lain aku tidak lagi memikirkannya. Nisa, seorang muslimah berjilbab yang layak untuk digagahi.


KOLEKSI CERITA
CERITA GITUAN NGANU NGANU
CERITA BIRAHI LESBIAN
CERITA DEWASA ROMANTIS
CERITA EKSEBISIONIS
CERITA GAIRAH TANTE
CERITA HOT SKANDAL
CERITA MESUM PELAJAR
CERITA NAFSU PEMERKOSAAN
CERITA NGEWE PEMBANTU
CERITA PANAS PESTA SEX
CERITA SANGE WANITA BERJILBAB
CERITA SEKS ABG
CERITA SEX BERSAMBUNG
CERITA SEX PERAWAN
CERITA TABU KELUARGA
CERITA TER HOT TUKAR PASANGAN
FOTO CANTIK INDONESIA
GAMBAR XXX


CeritaWow.Mobie.In :2019-2023

CERITAGITUAN.YN.LT
BACOL.WAP.SH

U-ON
CS